Penggunaan gawai di lingkungan sekolah semakin menjadi perhatian seiring pesatnya perkembangan teknologi digital. Laptop, tablet, maupun telepon genggam kini banyak dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk mengakses materi, mencari referensi, hingga menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan artifisial (AI).
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan gawai yang tidak terkontrol juga dapat memengaruhi konsentrasi belajar, interaksi sosial, bahkan kesehatan mental siswa.
Melansir dari Kemendikdasmen, pemerintah menerbitkan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. Kebijakan ini bertujuan membangun budaya penggunaan teknologi yang lebih sehat tanpa menghilangkan perannya dalam proses belajar.
Penggunaan Gawai Tetap Penting dalam Pembelajaran
Teknologi digital telah menjadi bagian dari pembelajaran abad ke-21. Berbagai aktivitas belajar kini dapat dilakukan lebih efektif dengan bantuan perangkat digital, seperti:
- mengakses materi pembelajaran secara daring;
- mencari referensi akademik;
- mengikuti kelas virtual;
- menggunakan AI untuk memahami konsep yang sulit;
- berkolaborasi melalui dokumen digital.
Artinya, penggunaan gawai bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan perlu diarahkan agar memberikan manfaat maksimal bagi proses belajar.
Mengapa Penggunaan Gawai Perlu Diatur?
Meski memiliki banyak manfaat, penggunaan gawai tanpa batas juga menghadirkan sejumlah tantangan.
Beberapa di antaranya meliputi:
- konsentrasi belajar yang mudah terpecah;
- meningkatnya ketergantungan terhadap perangkat digital;
- berkurangnya interaksi sosial secara langsung;
- kecenderungan menggunakan AI atau internet sebagai jalan pintas menyelesaikan tugas.
Karena itu, sekolah perlu membantu siswa membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara lebih bertanggung jawab.
Baca juga: Google Classroom: Aplikasi Belajar Online dengan Fitur Monitoring Progress Siswa Berbasis AI
Belajar Memanfaatkan Teknologi Secara Bijak
Salah satu contoh implementasi kebijakan tersebut dilakukan oleh SMP Bumi Cendekia Yogyakarta.
Sekolah ini tetap mengizinkan siswa membawa laptop maupun telepon genggam, tetapi penggunaannya diatur sesuai kebutuhan pembelajaran.
Laptop hanya digunakan pada waktu tertentu, sedangkan telepon genggam dipakai ketika memang diperlukan dalam kegiatan belajar dan selalu berada di bawah pendampingan guru.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembatasan penggunaan gawai bukan berarti menolak teknologi, melainkan mengajarkan siswa kapan dan bagaimana perangkat digital digunakan secara tepat.
AI Tetap Menjadi Bagian dari Proses Belajar
Menariknya, pembatasan penggunaan gawai tidak membuat siswa kehilangan kesempatan memanfaatkan teknologi terbaru.
Guru tetap menggunakan internet, YouTube, hingga kecerdasan artifisial (AI) sebagai sumber belajar.
Namun, AI digunakan untuk membantu siswa memahami materi, mencari referensi, atau mengeksplorasi informasi, bukan menggantikan proses berpikir maupun menyelesaikan tugas secara instan.
Dengan demikian, teknologi tetap menjadi pendukung pembelajaran, sementara kemampuan analisis dan kreativitas siswa tetap dikembangkan.
Interaksi Sosial Kembali Menjadi Bagian dari Budaya Sekolah
Penerapan aturan penggunaan gawai juga membawa perubahan positif di luar ruang kelas.
Saat waktu istirahat, siswa lebih banyak bermain bersama teman, berdiskusi secara langsung, berolahraga, maupun membaca buku.
Interaksi seperti ini berperan penting dalam membangun kemampuan komunikasi, kerja sama, dan perkembangan sosial yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Kemendikdasmen menegaskan bahwa tujuan utama kebijakan ini bukan melarang penggunaan teknologi, melainkan membentuk kebiasaan digital yang sehat sejak dini.
Dengan dukungan guru, orang tua, dan lingkungan sekolah, siswa diharapkan mampu menggunakan gawai secara lebih bijak, memanfaatkan teknologi ketika dibutuhkan, tetapi tetap mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas digital, pembelajaran, dan interaksi sosial.
Baca juga: Google Classroom: Aplikasi Belajar Online dengan Fitur Monitoring Progress Siswa Berbasis AI
Penggunaan Gawai Perlu Diimbangi dengan Literasi Digital
Teknologi akan terus berkembang dan menjadi bagian dari dunia pendidikan. Oleh karena itu, yang paling penting bukan sekadar membatasi penggunaan gawai, tetapi membekali siswa dengan kemampuan untuk menggunakannya secara bertanggung jawab.
Ketika literasi digital, etika bermedia, dan pemanfaatan AI berjalan beriringan, penggunaan gawai dapat menjadi sarana yang mendukung pembelajaran sekaligus membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi tantangan di era digital.
Perkembangan teknologi membawa banyak peluang baru dalam dunia pendidikan, mulai dari pemanfaatan AI, literasi digital, hingga strategi pembelajaran abad ke-21.
Kunjungi blog Kelas Juara untuk menemukan berbagai artikel, tips, dan informasi terbaru yang dapat membantu guru, siswa, serta orang tua memanfaatkan teknologi secara bijak demi menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif dan bermakna.
