fbpx

Ulangan Harian Masih Relevan? Begini Perannya di Era AI dan Kurikulum Merdeka

ulangan harian

Share this post

Ulangan harian selama bertahun-tahun menjadi salah satu cara guru mengukur pemahaman siswa setelah menyelesaikan suatu materi. Namun, perkembangan teknologi, terutama hadirnya Artificial Intelligence (AI), membuat banyak pendidik mulai mempertanyakan efektivitas bentuk ulangan yang hanya berisi soal pilihan ganda atau hafalan.

Di sisi lain, Kurikulum Merdeka juga mendorong perubahan cara melakukan asesmen. Fokusnya bukan lagi sekadar memperoleh nilai tinggi, melainkan memahami sejauh mana peserta didik benar-benar menguasai kompetensi yang dipelajari.

Lalu, apakah ulangan harian masih dibutuhkan?

Jawabannya adalah ya, tetapi dengan pendekatan yang berbeda. Cara merancang ulangan harian perlu beradaptasi agar tetap relevan dengan kebutuhan pembelajaran masa kini.

Apa Itu Ulangan Harian?

Ulangan harian adalah bentuk asesmen formatif yang dilakukan guru setelah siswa mempelajari satu kompetensi atau beberapa materi tertentu. Tujuannya bukan hanya memberikan nilai, tetapi juga mengetahui bagian mana yang sudah dipahami maupun yang masih perlu diperbaiki.

Hasil ulangan harian dapat menjadi dasar bagi guru untuk:

  • mengevaluasi efektivitas pembelajaran,
  • memberikan penguatan pada materi tertentu,
  • merancang pembelajaran lanjutan sesuai kebutuhan siswa.

Dengan kata lain, ulangan harian seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas belajar, bukan sekadar penentu angka di rapor.

Mengapa Model Ulangan Lama Mulai Kurang Efektif?

Saat ini, siswa dapat memperoleh jawaban hampir semua pertanyaan hanya dalam hitungan detik melalui internet maupun AI seperti Gemini atau ChatGPT.

Jika soal hanya meminta siswa mengingat definisi atau rumus, maka kemampuan tersebut tidak lagi menjadi pembeda.

Sebaliknya, dunia pendidikan mulai membutuhkan asesmen yang mampu mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS), seperti:

  • menganalisis suatu kasus,
  • memberikan argumentasi,
  • membandingkan berbagai solusi,
  • menyelesaikan masalah nyata,
  • menghasilkan karya berdasarkan pemahaman.

Inilah alasan mengapa banyak sekolah mulai mengembangkan bentuk ulangan yang lebih kontekstual.

Seperti Apa Ulangan Harian yang Lebih Relevan?

Di era AI, guru dapat mendesain asesmen yang lebih menantang daripada sekadar meminta jawaban benar atau salah. Beberapa contohnya antara lain:

Analisis studi kasus: Siswa diminta membaca sebuah peristiwa kemudian menjelaskan penyebab, dampak, dan solusi berdasarkan materi yang dipelajari.

Presentasi singkat: Alih-alih mengerjakan lembar soal, siswa mempresentasikan hasil pemahamannya kepada teman sekelas.

Proyek sederhana: Misalnya membuat poster, infografis, video edukasi, atau laporan hasil observasi.

Refleksi pembelajaran: Guru meminta siswa menjelaskan apa yang sudah dipahami, bagian yang masih sulit, dan strategi belajar yang akan dilakukan berikutnya.

Baca juga: Penguatan Sistem Pendidikan Nasional, bangun Pendidikan Indonesia yang Lebih Terintegrasi

Peran AI dalam Ulangan Harian

Menariknya, AI bukan hanya menjadi tantangan, tetapi juga dapat membantu proses asesmen.

Guru dapat memanfaatkan AI untuk:

  • membuat variasi soal sesuai tingkat kemampuan siswa,
  • menghasilkan rubrik penilaian,
  • menyusun studi kasus yang relevan,
  • memberikan umpan balik awal terhadap jawaban siswa.

Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan guru. AI berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti proses penilaian profesional seorang pendidik.

Selaras dengan Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka menempatkan asesmen formatif sebagai bagian penting dari proses belajar.

Artinya, ulangan harian tidak lagi dipandang sebagai “hukuman” setelah belajar, melainkan kesempatan untuk mengetahui perkembangan kompetensi siswa secara berkelanjutan.

Pendekatan ini memungkinkan guru memberikan intervensi lebih cepat ketika menemukan siswa yang membutuhkan pendampingan tambahan.

Dengan demikian, proses belajar menjadi lebih adaptif terhadap kebutuhan masing-masing peserta didik.

Ke depan, bentuk ulangan harian kemungkinan akan semakin beragam. Selain tes tertulis, sekolah diperkirakan akan lebih banyak menggunakan asesmen berbasis proyek, portofolio digital, simulasi, hingga kolaborasi antarsiswa.

Perubahan ini sejalan dengan kebutuhan dunia kerja yang tidak hanya menilai kemampuan menghafal informasi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan menyelesaikan masalah.

Karena itu, keberhasilan ulangan harian tidak lagi diukur dari banyaknya soal yang dijawab benar, melainkan dari seberapa baik asesmen tersebut mampu menggambarkan kemampuan nyata siswa.

Baca juga: Pembelajaran Jarak Jauh Jadi Strategi Kemendikdasmen Perluas Akses Pendidikan di Indonesia

Penutup

Di tengah perkembangan AI dan transformasi pendidikan, ulangan harian tetap memiliki peran penting sebagai alat evaluasi pembelajaran. Namun, bentuknya perlu berkembang dari sekadar menguji hafalan menjadi asesmen yang mendorong analisis, kreativitas, dan pemecahan masalah.

Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak dan menerapkan asesmen yang lebih autentik, guru dapat memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai perkembangan belajar setiap peserta didik.

Ingin mengetahui lebih banyak strategi pembelajaran, pemanfaatan AI di dunia pendidikan, serta berbagai inovasi digital untuk guru dan sekolah? Jelajahi artikel terbaru di blog Kelas Juara dan temukan berbagai inspirasi yang dapat langsung diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.