fbpx

5 Pemanfaatan AI dari Google untuk Pendidikan di Indonesia

ai dari google

Share this post

Google dan Google DeepMind menggelar Google AI for Learning Forum di London, menghadirkan para pendidik, peneliti, dan teknolog dari seluruh dunia untuk membahas satu pertanyaan besar: bagaimana seharusnya AI dari Google berperan dalam dunia pendidikan? 

Di forum ini, Ben Gomes (Chief Technologist for Learning and Sustainability di Google) memaparkan pandangan komprehensif Google tentang lanskap pembelajaran di era AI. Pesan-pesan dari forum ini membawa relevansi yang kuat bagi dunia pendidikan Indonesia yang tengah bertransformasi digital. 

Simak poin-poin utama yang Ben Gomes sampaikan, dan mengapa hal ini penting bagi guru dan siswa di Indonesia.

1. Teknologi bukan tujuan, manusia tetap jadi pusat pembelajaran

Ben Gomes menegaskan bahwa kemampuan fundamental manusia sebagai spesies adalah kemampuan untuk belajar dari orang lain, dan inilah yang memungkinkan manusia meneruskan kemampuan dari satu generasi ke generasi berikutnya

    Google sendiri menegaskan bahwa tujuan mereka bukan menggantikan koneksi manusia yang menjadi inti pembelajaran, melainkan memperkuatnya.

    2. Tantangan pendidikan global yang juga dirasakan Indonesia

    Beberapa tantangan nyata yang disebutkan Ben Gomes sangat familiar bagi kita:

      • Learning loss pasca pandemi yang masih terasa, termasuk penurunan skor PISA secara global untuk pertama kalinya.
      • Kekurangan guru yang diproyeksikan mencapai 44 juta tenaga pengajar secara global pada 2030, dengan banyak guru yang mengalami kelelahan (burnout).
      • Risiko kesenjangan digital baru, di mana hanya siswa yang paling beruntung yang bisa menikmati manfaat AI.

      Di Indonesia, tantangan ini terasa nyata. Contohnya seperti distribusi guru yang tidak merata antara Jawa dan daerah terpencil, serta kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah yang masih menjadi pekerjaan rumah bersam

      3. AI dari Google untuk siswa: Belajar lebih personal, lebih bermakna

      Ini adalah salah satu poin paling menarik dari pemaparan Ben Gomes. AI dari Google memiliki dua kekuatan besar yang relevan untuk pembelajaran: kemampuan berinteraksi secara mendalam jauh melampaui sekadar memberikan informasi, dan kemampuan mengubah informasi dari satu format ke format lain

      Dalam praktiknya, hal ini berarti:

        • AI menyesuaikan materi dengan cara belajar setiap siswa — membuat mereka tetap tertantang tanpa kewalahan.
        • Konsep-konsep yang terasa monoton di buku teks bisa disajikan ulang menjadi lebih bermakna dan relevan bagi siswa.
        • Materi bisa diubah ke format imersif seperti podcast, video, atau mind map — termasuk untuk siswa dengan kebutuhan belajar khusus.

        Siswa yang tak memiliki akses pengalaman belajar yang personal dan berkualitas (seperti bimbingan belajar atau les), dapat memanfaatkan AI dari Google untuk pengalaman belajar yang setara dan lebih personal.

        Baca juga: Teknologi AI di Indonesia Bisa Jadi Sahabat Belajar, Gimana Caranya?

        4. AI dari Google untuk guru: Lebih banyak waktu untuk hal yang lebih penting

        Ben Gomes menyoroti beban administrasi yang selama ini menguras energi para pendidik. 

          AI dari Google hadir bukan untuk menggantikan guru, melainkan membantu menyelesaikan tugas-tugas berulang seperti menyusun modul ajar dan laporan — sehingga guru bisa mencurahkan lebih banyak waktu dan energi untuk hal yang paling penting, yaitu menginspirasi dan mendampingi siswa.

          5. Pendekatan yang ditawarkan Google untuk pendidikan digital

          Pendekatan Google dalam AI untuk pendidikan dipandu oleh dua prinsip.

            Pertama, semua pengembangan didasarkan pada ilmu pembelajaran (learning science), karena lebih banyak teknologi dan model yang lebih besar saja tidak akan jadi solusi. 

            Model AI seperti Gemini dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip pedagogis seperti manajemen beban kognitif, mendorong pembelajaran aktif, dan merangsang rasa ingin tahu — yang dirangkum dalam program bernama LearnLM.

            Kedua, potensi AI hanya bisa terwujud melalui kemitraan aktif bersama para pendidik dan pelajar yang dilayaninya, serta komitmen terhadap pendekatan berbasis riset dan bukti nyata — untuk terus belajar, beriterasi, dan transparan tentang apa yang berhasil dan apa yang belum.

            Baca juga: Belajar Lebih Cerdas, Ini 7 Prinsip Penggunaan AI untuk Siswa dan Guru

            Pesan dari Google AI for Learning Forum London ini jelas: AI dari Google bukan sekadar alat teknologi, namun mitra strategis dalam mewujudkan pendidikan yang lebih inklusif, personal, dan berdampak. 

            Ingin membawa semangat transformasi ini ke sekolah atau institusi pendidikan Anda? Kelas Juara hadir untuk membantu para pendidik Indonesia menguasai AI dari Google dan Google Workspace for Education. 

            Dari pelatihan guru hingga implementasi solusi digital yang menyeluruh, kami siap mendampingi setiap langkah perjalanan Anda. Mulailah transformasi bersama Kelas Juara!