PAUD sebagai Fondasi Pendidikan untuk Membentuk Pembelajar Sepanjang Hayat

fondasi pendidikan

Share this post

Pendidikan anak usia dini bukan sekadar tahap sebelum anak memasuki sekolah dasar.

Pada masa inilah berbagai kemampuan penting mulai berkembang, mulai dari kemampuan fisik dan motorik, cara berpikir, hingga keterampilan sosial emosional.

Karena itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong penguatan PAUD sebagai fondasi pendidikan nasional.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq ketika menutup kegiatan Finalisasi Dokumen Perencanaan dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Program Revitalisasi PAUD Angkatan ke-62 di Batam, Kepulauan Riau, pada 11 Agustus 2026.

Revitalisasi PAUD Bukan Hanya Membangun Fasilitas

Program revitalisasi PAUD sering kali dipahami sebagai upaya memperbaiki atau membangun fasilitas pendidikan.

Padahal, menurut Wamen Fajar, revitalisasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur fisik. Program tersebut juga perlu mendukung pembangunan “infrastruktur kognitif” anak.

Artinya, lingkungan PAUD perlu dirancang untuk membantu anak mengembangkan pola pikir, mental, serta kebiasaan belajar sejak usia dini.

Bangunan yang layak memang penting. Namun, fasilitas tersebut perlu menjadi ruang yang dapat mendorong anak untuk mengeksplorasi lingkungan, mencoba hal baru, berinteraksi, dan memahami berbagai pengalaman di sekitarnya.

Menumbuhkan Motivasi Belajar dari Dalam Diri Anak

Salah satu hal penting yang perlu dikembangkan melalui PAUD adalah motivasi intrinsik untuk belajar.

Motivasi intrinsik berarti keinginan belajar yang tumbuh dari dalam diri anak, bukan hanya karena perintah, hadiah, atau tuntutan dari orang lain.

Ketika rasa ingin belajar sudah berkembang sejak dini, anak akan lebih terbuka terhadap pengalaman dan pengetahuan baru.

Dalam hal ini, tugas PAUD bukan sekadar mengenalkan huruf, angka, atau kegiatan akademis. PAUD juga perlu menciptakan pengalaman belajar yang membuat anak merasa bahwa belajar merupakan aktivitas yang menarik dan menyenangkan.

Fondasi inilah yang nantinya dapat membantu anak tumbuh menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Budaya Bertanya Membantu Mengembangkan Rasa Ingin Tahu

Selain motivasi belajar, Wamen Fajar juga menekankan pentingnya membangun budaya bertanya.

Anak-anak pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka sering mempertanyakan benda, peristiwa, atau aktivitas yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari proses anak mengenali dunia.

Karena itu, lingkungan pendidikan perlu memberikan ruang bagi anak untuk bertanya, mencari jawaban, dan menyampaikan pemikirannya. Guru dan orang tua dapat mendukung proses ini dengan memberikan respons yang mendorong anak untuk terus mengeksplorasi.

Budaya bertanya yang tumbuh sejak dini dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan keberanian berkomunikasi.

Baca jugaHasil PISA Indonesia 2025: Literasi dan Sains Naik, Akses Pendidikan Makin Luas

PAUD Perlu Menjadi Rumah Kedua yang Aman dan Nyaman

Lingkungan belajar juga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan anak.

Wamen Fajar menyebut sekolah atau PAUD sebagai rumah kedua bagi anak. Oleh karena itu, satuan pendidikan perlu menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar serta mengembangkan potensi.

Ketika anak merasa aman, mereka dapat mengikuti kegiatan dengan lebih leluasa, berinteraksi dengan teman, dan mengekspresikan dirinya.

Lingkungan PAUD yang baik perlu mendukung tiga aspek perkembangan utama, yaitu pertumbuhan fisik dan motorik, perkembangan kognitif, serta perkembangan sosial emosional.

Ketiga aspek tersebut saling berhubungan dan menjadi bekal penting bagi anak untuk melanjutkan proses pendidikan pada jenjang berikutnya.

Revitalisasi Perlu Dilaksanakan secara Aman dan Berkualitas

Penguatan fondasi pendidikan juga membutuhkan sarana yang layak dan proses revitalisasi yang bertanggung jawab.

Dalam kegiatan di Batam tersebut, sebanyak 259 kepala satuan PAUD diundang. Sebanyak 255 satuan pendidikan hadir dan telah menyelesaikan finalisasi Rencana Anggaran dan Pelaksanaan, sedangkan empat lainnya berhalangan mengikuti kegiatan.

Para peserta memperoleh pembekalan mengenai kebijakan revitalisasi, perencanaan program, mekanisme belanja barang dan jasa, pengelolaan dokumen, keuangan, perpajakan, hingga pengawasan program.

Mereka juga mempelajari penggunaan aplikasi Sistem Informasi Layanan Bantuan (SiLaB) PAUD.

Perencanaan yang matang diperlukan agar revitalisasi dapat berjalan dengan aman, lancar, sesuai ketentuan, serta menghasilkan bangunan dengan kualitas yang terstandar.

Baca jugaPrestasi Indonesia di IOAI 2026: Empat Murid Raih Medali

Membangun Masa Depan Indonesia Dimulai dari PAUD

Menempatkan PAUD sebagai fondasi sistem pendidikan berarti memastikan setiap anak memperoleh lingkungan yang mendukung seluruh proses tumbuh kembangnya.

Revitalisasi PAUD pun tidak berhenti pada perbaikan bangunan. Program ini juga perlu memastikan anak memiliki ruang untuk bermain, bertanya, berinteraksi, dan menemukan kegembiraan dalam belajar.

Dengan fondasi yang tepat, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, memiliki rasa ingin tahu, dan terus belajar sepanjang hidupnya.

Ingin mendapatkan lebih banyak informasi seputar pendidikan anak?

Temukan berbagai berita, tips, dan insight mengenai PAUD, perkembangan anak, teknologi pendidikan, dan inovasi pembelajaran di blog Kelas Juara.

Kunjungi Kelas Juara dan temukan inspirasi untuk menciptakan pengalaman belajar yang aman, menyenangkan, dan relevan bagi setiap anak.