Transformasi pendidikan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga bagaimana sekolah menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan interaktif.
Hal inilah yang mulai terlihat di beberapa sekolah di Jakarta Selatan melalui penggunaan teknologi pembelajaran modern dan dukungan program gizi untuk siswa.
Melansir dari Kemendikdasmen berdasarkan pantauan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Dharma Wanita Persatuan di SDN Gandaria Utara 03 dan SMPN 240 Jakarta menunjukkan bagaimana teknologi dan program pendukung siswa mulai diterapkan secara berdampingan.
Pembelajaran lebih efektif dengan Interactive Flat Panel
Salah satu teknologi yang digunakan adalah Interactive Flat Panel (IFP), perangkat layar interaktif yang membantu proses belajar menjadi lebih visual dan dinamis.
Di sekolah tersebut, IFP sudah digunakan secara rutin untuk mendukung pembelajaran di kelas. Guru dapat menampilkan materi, video, ilustrasi, hingga aktivitas interaktif yang membuat siswa lebih terlibat selama proses belajar berlangsung.
Pendekatan ini menunjukkan bagaimana kelas digital mulai diterapkan secara nyata di lingkungan sekolah. Materi tidak lagi hanya disampaikan lewat papan tulis konvensional, tetapi juga melalui media visual yang lebih menarik dan mudah dipahami siswa.
Program MBG bantu dukungan nutrisi siswa
Selain teknologi pembelajaran, sekolah juga menjalankan program MBG yang membantu memastikan asupan makanan siswa tetap terpantau dengan baik.
Menu makanan yang diberikan disusun dengan pendampingan ahli gizi, sehingga siswa tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar yang lebih modern, tetapi juga dukungan kesehatan yang lebih baik selama menjalani aktivitas di sekolah.
Hal ini memperlihatkan bahwa pendidikan saat ini mulai dipandang sebagai ekosistem yang saling terhubung—mulai dari kualitas belajar, kesehatan siswa, hingga lingkungan sekolah yang mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.
Baca juga: Canva Whiteboard: Ruang Kolaborasi Tanpa Batas untuk Guru & Siswa di Era Digital
Tantangan: perangkat dan pelatihan guru masih terbatas

Meski penggunaan IFP dinilai membantu proses pembelajaran, implementasinya masih memiliki tantangan.
Saat ini, penggunaan perangkat dilakukan secara bergantian atau terjadwal karena jumlah perangkat yang tersedia masih terbatas.
Selain itu, pelatihan guru juga menjadi faktor penting agar teknologi seperti IFP dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
Artinya, transformasi digital di sekolah tidak cukup hanya dengan menghadirkan perangkat, tetapi juga perlu didukung kesiapan tenaga pendidik dan akses teknologi yang lebih merata.
Baca juga: 7 Tips Manajemen Kelas Digital dengan Tools Google yang Lebih Interaktif
Bisakah diterapkan di sekolah lain?
Inisiatif seperti ini menjadi gambaran menarik tentang arah pendidikan masa depan di Indonesia. Kombinasi teknologi pembelajaran dan dukungan kesehatan siswa berpotensi menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif dan menyenangkan.
Namun pertanyaannya, apakah model seperti ini bisa diterapkan secara merata di sekolah lain di Indonesia?
Masih dibutuhkan dukungan infrastruktur, pelatihan guru, dan pemerataan akses teknologi agar transformasi pendidikan digital tidak hanya dirasakan oleh sebagian sekolah saja.
Tertarik mengikuti perkembangan teknologi pendidikan dan inovasi belajar lainnya? Yuk, eksplor lebih banyak artikel menarik di blog Kelas Juara. Selamat belajar!
